
Wujudkan 5 Relationship Goal Unik Ini di Tahun 2017
Anda dan pasangan belum memiliki relationship goal untuk tahun 2017? Makin Dekat berikan daftarnya hanya untuk Anda.
22 August 2025
Intermittent fasting (IF) semakin populer sebagai metode pengaturan pola makan yang diklaim efektif untuk menurunkan berat badan dan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan. Namun, di balik manfaat yang sering digaungkan, muncul pertanyaan penting terutama di kalangan wanita: bagaimana dampaknya terhadap siklus haid?
Tubuh wanita memiliki mekanisme hormonal yang jauh lebih kompleks dan sensitif dibandingkan pria, terutama saat berbicara soal pola makan dan metabolisme. Maka tak heran, ketika rutinitas makan berubah drastis, tubuh pun bisa merespons dengan cara yang tak selalu terduga.
Intermittent fasting (IF) adalah pola makan yang mengatur waktu makan dan puasa dalam siklus tertentu, tanpa membatasi jenis makanan secara spesifik. Beberapa metode yang paling umum digunakan adalah 16:8, di mana seseorang berpuasa selama 16 jam dan makan dalam jendela waktu 8 jam, serta metode 5:2, yang melibatkan dua hari puasa rendah kalori dalam seminggu dan lima hari makan normal.
Pada wanita, tubuh cenderung lebih peka terhadap perubahan ritme asupan energi. Ketika tubuh mengalami periode puasa yang panjang, kadar insulin dan glukosa akan menurun, sementara hormon stres seperti kortisol bisa meningkat. Perubahan ini dapat mengganggu kestabilan hormon reproduksi jika tidak diimbangi dengan asupan gizi yang memadai dan manajemen stres yang baik.
Pada perempuan, efek intermittent fasting sangat erat kaitannya dengan perubahan pada sistem hormonal, terutama hormon yang mengatur fungsi reproduksi dan siklus haid. Tubuh wanita cenderung lebih sensitif terhadap perubahan pola makan, asupan energi, dan stres fisik. Itulah sebabnya penting untuk memahami bagaimana pola makan seperti intermittent fasting dapat memengaruhi keseimbangan hormon dan berdampak pada keteraturan siklus menstruasi.
Ketika tubuh mengalami perubahan pola makan yang signifikan seperti dalam intermittent fasting, produksi hormon-hormon kunci seperti estrogen, progesteron, luteinizing hormone (LH), dan follicle-stimulating hormone (FSH) bisa ikut terpengaruh. Estrogen dan progesteron, misalnya, sangat bergantung pada asupan energi yang cukup untuk menjaga siklus ovulasi yang sehat. Begitu pula dengan LH dan FSH yang memiliki peran penting dalam proses pematangan dan pelepasan sel telur.
Di sisi lain, ada leptin yang mengatur rasa kenyang dan mencerminkan cadangan energi dalam tubuh. Leptin juga berfungsi sebagai sinyal bagi otak untuk menentukan apakah kondisi tubuh cukup stabil untuk mendukung ovulasi. Ketika cadangan energi menurun akibat puasa yang terlalu ketat atau berkepanjangan, kadar leptin bisa turun drastis dan menyebabkan gangguan pada sinyal hormonal tersebut. Akibatnya, siklus menstruasi pun bisa menjadi tidak teratur atau bahkan terhenti sementara.
Jika dilakukan secara ekstrem atau tanpa memperhatikan kebutuhan tubuh, intermittent fasting bisa menyebabkan gangguan pada siklus haid. Salah satu risiko utamanya adalah haid menjadi tidak teratur atau bahkan terhenti (amenorea), terutama jika asupan kalori terlalu rendah dalam jangka panjang. Tubuh yang merasa kekurangan energi akan secara otomatis menekan fungsi-fungsi yang dianggap tidak esensial untuk bertahan hidup seperti reproduksi.
Selain itu, ovulasi bisa terganggu karena penurunan hormon-hormon seperti LH dan FSH yang diperlukan untuk pematangan sel telur. Gangguan ini bisa muncul dalam bentuk siklus haid yang lebih panjang dari biasanya, perdarahan yang sangat sedikit, atau tidak adanya ovulasi sama sekali. Risiko ini akan semakin tinggi jika IF dilakukan bersamaan dengan olahraga intensif, stres tinggi, atau berat badan yang terlalu rendah. Karena itu, penting bagi wanita untuk mendengarkan sinyal tubuh dan menyesuaikan pola makan agar tetap mendukung kesehatan hormonal.
Meskipun intermittent fasting dapat berisiko jika diterapkan secara sembarangan, bukan berarti pola makan ini selalu berdampak negatif bagi siklus haid. Dalam kondisi tertentu, justru IF bisa membantu menyeimbangkan hormon dan memperbaiki keteraturan menstruasi, terutama pada wanita yang mengalami gangguan metabolik seperti sindrom ovarium polikistik (PCOS) atau obesitas.
Pada kasus PCOS, tubuh biasanya mengalami resistensi insulin dan ketidakseimbangan hormon androgen yang dapat mengganggu ovulasi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa intermittent fasting dapat membantu menurunkan kadar insulin dan memperbaiki sensitivitas sel terhadap glukosa. Perbaikan ini berkontribusi pada penurunan kadar hormon androgen dan bisa mendukung kembalinya ovulasi yang lebih teratur.
Hal serupa juga berlaku pada wanita dengan kelebihan berat badan, di mana penurunan lemak tubuh melalui IF dapat membantu menstabilkan hormon reproduksi dan mengurangi inflamasi sistemik yang turut memengaruhi siklus haid. Namun, keberhasilan IF dalam membantu regulasi siklus sangat bergantung pada bagaimana metode ini diterapkan; termasuk durasi puasa, asupan nutrisi, dan kondisi fisik masing-masing.
Meskipun intermittent fasting bisa membawa manfaat dalam kondisi tertentu, tidak semua wanita cocok menerapkannya. Mereka yang memiliki berat badan sangat rendah, mengalami stres kronis, atau memiliki riwayat gangguan makan seperti anoreksia atau bulimia, sangat disarankan untuk menghindari metode ini. Pada kondisi tersebut, tubuh berada dalam tekanan yang tinggi dan dapat merespons IF dengan penurunan drastis hormon reproduksi, yang pada akhirnya justru memperburuk kondisi fisik dan emosional.
Bagi wanita yang tetap ingin mencoba IF, penting untuk melakukannya secara bijak. Pastikan asupan nutrisi tetap tercukupi dalam jendela makan, hindari puasa yang terlalu ekstrem, dan dengarkan sinyal tubuh. Jika siklus haid mulai terganggu, merasa lelah berlebihan, atau mengalami gejala hormonal lain, ada baiknya mengevaluasi kembali pola makan yang dijalani. Konsultasi dengan dokter atau ahli gizi juga bisa menjadi langkah aman sebelum memulai IF secara rutin.
Menjaga keseimbangan hormon dan kesehatan area kewanitaan berjalan beriringan. Untuk merawat area kewanitaan secara optimal setiap hari, kamu bisa memilih produk yang tepat seperti Sumber Ayu Clear White dengan Triple Whitening Extracts. Mengandung ekstrak daun sirih sebagai antiseptik alami serta kombinasi bengkoang, susu, dan chamomile yang membantu mencerahkan kulit area kewanitaan yang menggelap akibat gesekan.